Jumat, 29 Januari 2016

RIVEW BUKU WEJANGAN NABI KHIDIR KEPADA SUNAN KALIJAGA (Kajian Mistik Dalam Suluk Seh Malaya)



Judul buku         : Wejangan Nabi Khidir Kepada Sunan Kalijaga (Kajian Mistik Dalam Suluk Seh Malaya)
Penulis                : Drs. H. Ridin Sofwan, M.Pd.
Penerbit              : Walisongo Press
Kota terbit          : Semarang
Tahun terbit       : 2012
Tebal buku         : 155 halaman
A.      Latar Belakang Masalah
Pada beberapa karya suluk, yang menjadi tokoh cerita hampir semua mengambil tokoh sejarah. Dalam karya suluk Seh Malaya yang menjadi tokoh cerita adalah Nabi Khidir dan Seh Malaya. Nabi Khidir digambarkan sebagai sosok misterius yang berilmu tinggi. Sedangkan Seh Malaya nama lain dari Sunan Kalijaga atau Raden Sahid, beliau termasuk salah seorang wali penyebaran Islam di Jawa yang berguru kepada Sunan Bonang.
Karya sastra suluk merupakan karya sastra dalam bentuk puisi (tembang). Secara definitif suluk adalah jalan yang ditempuh menuju Allah SWT, pencarian kebenaran sejati melalui penempatan diri seumur hidup dengan melakukan syari’at lahiriyah serta batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan. Mistik merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari cara bagaimana orang dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Masyarakat Jawa merupakan masyarakat religius (berketuhanan), sementara mistik menjadi perwujudan dari pengalaman batin tentang hubungan antara manusia dengan Tuhannya.
Kajian dalam buku ini difokuskan pada isi kandungan Suluk Seh Malaya, terutama wejangan Nabi Khidir terhadap Sunan Kalijaga. Naskah ini tidak diketahui siapa pengarangnya dan pada masa kapan ditulis, dilihat dari bahasa yang digunakan termasuk puisi tradisional Jawa Klasik Mataram Baru dengan tanda metrum macapat. Pada tahun 1931 karya ini sudah diterbitkan dalam aksara Jawa oleh De Bliksem Solo. Kajian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan cetakan kedua (tahun 1956) dengan bahasa Jawa dari naskah turunan Faqir Abd’Haqq yang berupa tulisan tangan asli dari Boyolali, di terbitkan oleh Amateur Keluarga Bratakesawa Yogyakarta pada tahun 1954 (cetakan pertama).
Dalam buku yang ditulis oleh Drs. H. Ridin Sofwan, M.Pd, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang ini, berupaya untuk mengetahui maksud penulisan Suluk Seh Malaya, apakah untuk mempertahankan nilai ajaran atau ide lama dengan simbol keislaman sehingga nampak Islami dan dapat diterima oleh orang Jawa atau penyesuaian mistik Islam supaya identik dengan nilai mistik Jawa pra Islam.  
Untuk mencari tahu jawaban seputar perjalanan Seh Malaya dalam mencari air “zam-zam” atas petunjuk gurunya yakni Sunan Bonang, kemudian ditengah perjalanan menemui jalan buntu terhalang samudera dan ditemui oleh Nabi Khidir yang memberi wejangan tentang ilmu hakekat.  Kita bisa menemukannya di dalam buku yang memiliki tebal 155 halaman. Buku ini, secara garis besar dibagi menjadi lima bab yang terdiri dari 21 sub bab. Di dalam buku ini tidak hanya memberitahukan bagaimana pertemuan Seh Malaya dengan Nabi Khidir, namun juga memaparkan isi kandungan yang ada dalam Suluk Seh Malaya.
Buku ini patut diacungi jempol karena walaupun dalam buku ini difokuskan pada pertemuan Seh Malaya dengan Nabi Khidir, namun Isi naskah lebih Islami, dengan konsep-konsep Islam seputar wejangan Nabi Khidir. Seluruh wejangan yang diceritakan dalam buku ini merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh para pembaca, karena di dalamnya memuat banyak pembelajaran yang mengandung nilai-nilai Islami meskipun berbau mistik Jawa. Dengan demikian, pembaca dapat mengetahui inti ajaran mistik yang terkandung dalam wejangan yaitu manusia akan mencapai persatuan dengan Tuhan manakala mampu mengalahkan hawa nafsu, selalu ingat dan waspada. Maka dari itu, buku ini sangat cocok sekali sebagai tambahan wawasan untuk memperdalam ilmu agama Islam.                    .
Namun, di sisi lain dalam buku ini terdapat penggunaan bahasa yang terlalu tinggi sehingga sulit untuk dipahami oleh generasi sekarang terutama pembaca pemula. Meskipun demikian buku ini sangatlah menarik untuk dibaca. Menurut saya, buku ini cocok untuk menjadi bacaan wajib bagi semua kalangan. Karena mengandung makna bagi kehidupan kerokhanian yang berisi nilai-nilai agama, akhlaq, dan budi pekerti luhur. Sehingga sangat diperlukan, tidak hanya untuk melestarikan hasil karya pujangga, namun juga untuk menggali pandangan untuk bekal dalam kehidupan yang berupa petunjuk, nasehat, dan wejangan dari isi kandungannya. 
B.       Metodologi Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan metode library research (Penelitian Kepustakaan). Data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu berupa ungkapan-ungkapan verbal yang terdapat pada sumber kepustakaan.  Sumber data pustaka dibedakan menjadi dua, yaitu sumber data primer (sumber utama) yaitu Suluk Seh Malaya untuk mendapatkan deskripsi atau gambaran tentang isi naskah terutama wejangan Nabi Khidir; dan sumber data sekunder (sumber pendukung) yaitu buku-buku teks, jurnal, kamus, serta hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan materi kajian dalam penelitian ini, yakni masalah mistik, tasawuf atau kebatinan untuk mengkaji konsep-konsep teoritik yang berkaitan dengan mistik Islam maupun mistik jawa.
Penulis menggunakan pendekatan filologi dalam arti tidak mengkaji aspek eksternal, melainkan langsung terhadap aspek internal berupa isi naskah. Arah pada penelitian ini adalah kajian yang bersifat deskriptif analitis. Sudut pandang dalam buku ini adalah melihat dari aspek mistik, dengan menempatkan isi, khususnya wejangan Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga sebagai simbol ajaran mistik. 
C.      Hasil Penelitian
Suluk Seh Malaya berisi ungkapan-ungkapan simbolik yang sebagian besar berisi nasehat atau wejangan mengandung suatu ajaran yang terfokus pada kebatinan atau mistik. Wejangan tersebut merupakan ajaran mistik yang memberi petunjuk tentang upaya manusia untuk bisa manunggal dengan Tuhan. Tujuan tersebut antaralain: mencari kesempurnaan hidup atau mati dalam hidup (mati ing sajroning urip). Gambaran singkat alur cerita dalam Suluk Seh Malaya yang terkait dalam bentuk enam tembang macapat dari pupuh I sampai dengan pupuh VIII, yang berisi antara lain:
1.    Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang
Sudah lama Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang, berharap untuk memperoleh ajaran tentang kesempurnaan yang tak kunjung didapatkan. Beberapa tugas selalu dilaksanakan dengan penuh hormat dan ketaatan terhadap gurunya antara lain: menunggu pohon beringin besar di hutan bonang selama 1 tahun, melakukan tapa pendem tubuhnya dikubur dalam tanah selama 1 tahun, melakukan tapa ngidang (hidup di hutan bersama kijang secara rahasia) selama satu tahun dan diminta untuk naik haji ke Mekah untuk mendapat air suci zam-zam.
Cerita tersebut memberikan gambaran tentang latar belakang ajaran tentang kesempurnaan atau kelepasan. Diperintahkan untuk melakukan dengan cara Islam yakni naik haji, bahwa saat naik haji itulah akan ditemukan apa yang dicari yakni “sifat idayutullah”.
2.    Sunan Kalijaga pergi ke Mekah dengan maksud naik haji
Ketika Seh Malaya melakukan perjalanan menuju ke mekah ditepi samudra ditemui oleh Nabi Khidir yang mengetahui asal usul dan tujuannya. Nabi Khidir mengatakan bahwa apalah arti naik haji ke ka’bah peninggalan Nabi Ibrahim yang terbuat dari kayu dan batu, apabila tidak mengetahui ka’bah yang sejati maka akan sama artinya dengan orang kafir yang menyembah berhala. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa dengan cara islam yaitu dengan naik haji seseorang diharapkan dapat mencapai tujuan mistik. 
3.    Seh Malaya bertemu Nabi Khidir dan melihat aneka macam cahaya
Nabi Khidir menjelaskan bahwa cahaya gemilang itu namanya Panca maya (muka sifat), yang mungkin jiwa manusia menuju sifat jati atau sifat hakiki. Adapun empat macam cahaya (hitam, merah, kuning dan putih) merupakan nafsu manusia. Kemudian Nabi Khidir menerangkan bahwa nafsu mutmainah dalam kehidupan manusia selalu berperan melawan tiga nafsu lainnya (lauwamah, amarah dan sufiyah), karena sendirian biasanya selalu kalah. Seh Malaya melihat suatu cahaya yang berisikan delapan sinar, kemudian Nabi Khidir menjelaskan bahwa cahaya itu merupakan suatu bentuk penggambaran kesatuan wujud antara alam besar, jagad raya dengan alam kecil, manusia, bahwa secara hakiki hakikat manusia sama dengan hakikat alam.
4.    Seh Malaya melihat boneka gading
Selain melihat suatu sinar yang berisikan delapan sinar, terlihat pula anak-anakan gading yang bercahaya gemerlapan. Menurut ajaran ini selain nafsu-nafsu, pada diri manusia juga terdapat tiga unsur rohaniah dan ilahiyah yakni: pramana, suksma dan suksma sejati yang saling berhubungan.  
5.    Makna wejangan Nabi Khidir kepada Seh Malaya.
a.    Seh Malaya harus keluar dari gua garba Nabi Khidir, tidak boleh tinggal disitu selama masih hidup. Kondisi yang dirasakan didalamnya merupakan kenikmatan dari orang yang telah mencapai tujuan mistik, suatu kondisi manunggaling kawula Gusti yaitu perasaan nikmat, tenang, tenteram yang tak terkira.
b.    Seh Malaya harus awas dan waspada terhadap segala macam godaan rencana yang menyesatkan hati manusia, tidak boleh mempunyai sesuatu kegemaran yang membatalkan kelepasan. Nasehat tersebut menjadi syarat bagi yang berolah mistik, agar waspada terhadap godaan nafsu, terkait dengan kenikmatan yang bersifat duniawi dan untuk menghindari perilaku yang tidak baik.
c.    Seh Malaya harus membatasi pembicaraan tentang ilmu kesempurnaan kecuali dengan orang yang telah sama-sama mendapatkan hidayah Allah. Oleh karena itu golongan ilmu kebatinan ini terkadang sering bertentangan dengan mereka yang menaati syari’at.
d.   Seh Malaya perlu memahami sangkan paraning dumadi dan pamoring kawula Gusti. Proses ini besar sekali manfaatnya bagi yang berkepentingan. Apabila telah memiliki daya sanggup atas ridlo Tuhan dan sudah berlatih maka akan lancar berma’rifat, dan dapat dikatakan “ia sudah berbadan Tuhan.
e.    Seh Malaya harus mengetahui apa hakekat dari kelepasan, cara mempelajari ilmu Kesampurnaan dan mengetahui pula tentang laku manusia setelah faham benar dalam ilmu Kesunyatan. Kelepasan itu wujudnya boleh besar, kecil, lembut ataupun luas. Meliputi seluruh alam semesta dan menguasai segala-galanya tiada yang terkecuali.
Oleh sebab itu pesan Nabi Khidir kepada Seh Malaya agar dicamkan bahwa apabila kawula dan Gusti sudah menjadi satu maka berlaku dalil mustika yang berbunyi “apa yang dikehendaki jadilah, apa yang dicita-citakan datanglah”. Orang yang sudah faham benar akan Ilmu Kesampurnaan dalam batinnya tak boleh sekejappun melupakannya serta harus dapat mempraktekkan ucapan dan kalimah yang berbunyi “hidup itu sifatnya abadi, sedangkan mati adalah hawa nafsu”. 
Ajaran metafisik memiliki arti penting bagi para pelaku mistik, karena dalam ajaran itu akan diketahui tujuan yang benar dari pada apa yang dilakukannya. Metafisik diartikan sebagai kenyataan yang berada dibalik alam Nyata.  Ajaran metafisik dalam Suluk Seh Malaya, meliputi:
1.    Ajaran tentang Tuhan, perumpamaan tentang pengejawantahan Tuhan dalam diri manusia serta menjadi intisari manusia sehingga mencerminkan adanya kesamaan hakekat juga diungkapkan seperti hubungan matahari dengan sinarnya, madu dengan manisnya, dan sebagainya. 
2.    Ajaran tentang Alam, terdapat beberapa jenis alam, seperti alam awing-uwung, alam ambiratan, alam ambiya, alam dunia, alam akhirat dan alam kematian. Dari beberapa alam tersebut dapat diketahui bahwa terdapat alam lahir dan alam ghaib.
3.    Ajaran tentang Manusia, terdiri dari asppek lahir dan rohani (batini). Manusia berasal dari johar awal (penguasaan insan kamil di akhirat).
Tujuan mistik adalah untuk mencapai hubungan yang sedekat-dekatnya antara manusia dengan Tuhan. Praktek mistik akan selalu berorientasi pada tujuan mistik, tujuan mistik medasar pada pemikiran atau pemahaman yang menjadi dasar keyakinan, yaitu tentang asal-usul manusia serta hubungannya dengan Tuhan. Jalan mistik yang tercermin dari wejangan Nabi Khidir dilakukan dengan cara meneliti (melihat diri), terutama berhubungan dengan unsure-unsur rohaniah manusia yang disimbolkan dengan cahaya atau warna.
Oleh sebab itu ajaran mistik menjadi isi kandungan Suluk Seh Malaya lebih mencermintan mistik yang bersifat sinkretik yaitu pemcampuran antara mistik Islam. Dengan tujuan untuk melestarikan mistik Jawa yang sinkretik dengan memasukkan konsep-konsep yang berasal dari ajaran mistik Islam. Dengan demikian upaya untuk “mengislamkan” mistik Jawa itu masih sebatas aspek luar, sedangkan makna yang tersirat tetap bertumpu mistik manunggaling kawulo Gusti dan berlandaskan teologi panteistik.
Secara garis besar inti sari dari ajaran mistik yang terkandung dalam wejangan tersebut yaitu bahwa manusia akan mencapai persatuan dengan Tuhan apabila mampu mengalahkan hawa nafsu, selalu ingat dan waspada dengan semua halangan yang ada. Oleh karena itu manusia harus selalu berlatih berkaca dari diri sendiri sehingga menemukan hakekat dirinya yang terdalam untuk mewujudkan kemanunggalan sehingga dapat menjadi manusia yang memiliki sifat kedewataan (insan kamil).      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar