Jumat, 29 Januari 2016

PENYEBARAN PERADABAN ISLAM DI AFRIKA



Di dunia ini terdapat banyak agama, namun Islam satu-satunya agama samawi yang benar dan diridhai oleh Allah Swt., sebagai pedoman dan tuntunan hidup umat manusia hingga akhir zaman.[1] Secara umum dunia Islam Afrika mewakili salah satu keragaman budaya Islam yang mengagumkan sesuai dengan struktur kesukuan bangsa di benua tersebut. Para sufi telah membawa Islamisasi damai yang memberi citra pada pengukuhan akan kesan kedamaian, hingga bentangan Islam yang cukup luas dan beragam. Dunia Afrika telah memiliki kontak dengan Islam sejak masa Rasulullah SAW.[2] Kemudian kontak tersebut meluas dan tersebar hingga zaman modern ini, sehingga mengantarkan afrika menjadi satu-satunya benua di dunia yang penduduknya mayoritas muslim.    Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan di paparkan proses penyebaran dan peradaban Islam di Afrika.
I.         PEMBAHASAN
A.       Potensi Geografis Dan Peradaban Afrika
Secara demografis konsentrasi muslim bukan hanya di Timur Afrika namun juga menembus wilayah barat Afrika. Islam di wilayah ini telah ada ratusan tahun sejak Islam tersebar sekitar abad ke-9 M melalui para pedagang yang mengambil rute Selatan Sahara. Sebelum abad ke-11 M beberapa kerajaan Islam muncul. Kawasan Afrika, secara umum terbagi dalam dua kategori, yaitu wilayah Afrika Utara dan Afrika Hitam. Keduanya memiliki dua perbedaan yang cukup mencolok baik dalam bentuk-bentuk tipologi fisik, bahasa, makanan dan struktur sosialnya. Lingkungan geografis bagian Utara merupakan wilayah yang sangat terbuka sehingga berbagai tradisi luar mudah masuk, terutama pengaruh dari Arab maupun berbagai tradisi dan budaya sebelumnya. Oleh sebab itu secara etnolinguistik Afrika Utara termasuk pada kategori Dunia Arab, seperti: Aljazair, Maroko, Libya dan sebagainya.
Sementara secara umum wilayah Afrika Hitam yang lain, sangat tertutup karena letak wilayah yang terletak di pedalaman sehingga budaya luar jarang memberikan sentuhan dan pengaruh pada pembentukan sikap dan mentalitas secara khusus. Yang termasuk wilayah Afrika secara keseluruhan menunjukkan ciri sama sekali pola-pola non-Arabnya. Dengan melihat pemetaan secara global dalam perspektif regional meliputi: tipologi Afrika Utara, Afrika Selatan, Afrika Tengah, Afrika Barat, dan Timur.[3]
Benua Afrika memiliki karakteristik aneh yang membedakannya dari benua-benua lain di dunia, yaitu adanya negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim tapi dipimpin non muslim. Hal ini dikarenakan sebelum kaum kolonial pergi terlebih dahulu menyerahkan kekuasaan negeri tersebut ke tangan kaum Kristen. Hingga kini, pemerintahan Kristen terus berkuasa di sana.[4]
B.       Proses Masuknya Islam di Afrika
Islam masuk Afrika sama dengan sejarah agama Islam itu sendiri. Orang Afrika yang masuk Islam pertama yaitu Bilal bin Rabah seorang Habsyi, Etiopia yang menjadi izin Muazin dan sahabat kesayangan Nabi Muhammad SAW.[5] Pada masa Nabi SAW, pertama kali ada kontak Islam dengan Afrika yaitu setelah beberapa sahabatnya hijrah ke Hasbsy dan mendapatkan perlakuan baik dari masyarakat maupun dari penguasa yaitu Raja Najjasyi atau Negus.[6]
Pada abad 1 H/7 M kehidupan sosial masyarakat Afrika Utara lebih merupakan kehidupan masyarakat Barbar yang bersifat kesukuan, nomad dan partiarkhi.[7] Kemudian, Awal mula Islam masuk afrika adalah di bawah pimpinan Amr Bin Ash pada tahun 640 M pada saat menyerbu mesir yang di kuasai oleh kerajaan bizantium, Amru bin Ash memandang bahwa Mesir dilihat dari kacamata militer maupun perdagangan letaknya sangat strategis, tanahnya subur karena terdapat sungai Nil sebagai sumber makanan. Maka dengan restu Khalifah Umar bin Khattab dia membebaskan Mesir dari kekuasaan Romawi pada tahun 19 H (640 M) hingga sekarang.
Pada saat hendak menyerbu Babil yang dipertahankan mati-matian oleh pasukan Muqauqis itu, datang bala bantuan 4.000 orang pasukan lagi dipimpin empat panglima kenamaan, yaitu Zubair bin Awwam, Mekdad bin Aswad, Ubadah bin Samit dan Mukhollad sehingga menambah kekuatan pasukan muslim yang merasa cukup kesulitan untuk menyerbu karena benteng itu dikelilingi sungai. Akhirnya, pada tahun 22 H (642 M) pasukan Muqauqis bersedia mengadakan perdamaian dengan Amru bi Ash yang menandai berakhirnya kekuasaan Romawi di Mesir. Kemenangan dalam perang ini tak terlepas dari respon positif yang di berikan rakyat mesir waktu itu yang masih memeluk agama Kristen. Sebagai jaminan atas keadilan bagi negara yang di tundukan amru bin ash memberi jaminan kebebasan beragama.[8]
Proses masuknya Islam ke Afrika melalui lima cara, antara lain:
1.      Expansi atau penakhlukan seperti penyerbuan Dinasti Al-Murabitin ke Afrika Barat tahun 1052-1076.
2.      Migrasi dan pemukiman muslim di wilayah non muslim, seperti orang Yaman dan Oman menetap di daerah peradapan Swahili, Afrika  Timur, yang sekarang merupakan wilayah Kenya dan Tanzania, dan juga budak-budak melayu yang didatangkan ke Afrika Selatan.
3.      Perdagangan, melalui perdagangan lintas sahara. Perdagangan tersebut terjadi di Negara Negara Guinea, Mali, Sinegal, Niger, Uganda, Zaire, Malaw, dan Mozambik.
4.      Dakwah, misi ini diemban oleh Mubalig, Guru dan Imam pengembara. Buku dan brosur yang menerangkan agama Islam dicetak dalam bahasa Afrika dan ditujukan kepada golongan non muslim.
5.      Gerakan pembersihan moral, gerakan ini yang paling terkenal adalah gerakan yang dipimpin Utsman dan Fodio di Nigeria.
Menurut data tahun2001 jumlah penduduk Afrika kurang lebih 750 juta dan 50% nya beragama Islam. Negara-negara yang terdapat di benua Afrika meliputi antaralain: Mesir, Libya, Chad, Somalia, Kenya, Tanzania, Zaire, Angola, Zambia, Uni Afrika Selatan dan ada beberapa lagi yang lain.[9]
C.       Islam Di Afrika
1.      Afrika Timur
Para pendatang membawa Islam ke Afrika Timur melalui dua cara, yaitu melalui jalur darat dengan menyusuri sungai Nil, atau melalui jalur laut dan menyeberangi Laut Merah atau Samudra India oleh para pedagang dan mubaligh sufi. Konvergensi agama di pedalaman-pedalaman Afrika Timur secara umum terjadi apabila para raja atau kepala suku yang mau melakukannya, Di samping sungai Nil, kekuatan kristen merupakan basis yang sebenarnya sulit di tembus oleh Islam. Dengan masuknya Islam di beberapa kerajaan (suku) Nubia pada abad pertengahan , berhasil mengaleniasi mereka dengan suku-suku lainnya. Dengan begitu, setelah terislamkan etnik ini mengalami perpecahan dengan suku Afrika Timur lainnya terus mempertahankan identitas invidualitas budayanya. Banyak sekali bahasa suku yang muncul di Afrika Timur. Pengaruh Islam terhadap bahasa dan kesusastraan ditemukan dengan berbagai ragam terjemahan. Pola pikir yang memengaruhi bangsa Islam Afrika Timur kebanyakan berupa cerita popular, puisi, prosa dan tidak ditulis dalam  bahasa Arab klasik. Bahasa yang muncul yaitu: Amhara, Oromo, Gurage, Somali, dan Swahili.[10]
2.      Afrika Barat
Islamisasi Afrika Barat terjadi antara abad ke 11 dan ke 16 melalui:
a.  Penaklukan militer oleh orang Almoravid (al-Murabitun). Afrika Utara menjarah Afrika Barat dalam rangka mencari emas dan budak,
b. Saluran perdagangan jarak jauh dan ramah dengan Afrika Utara.
Persaudaraan yang membentuk Islam di Afrika Barat sekarang merupakan cabang dari dua persaudaraan utama: Qadiriyah (abad ke 12 di Baghdad), dan Tijaniyah (abad ke 18 Maroko).[11] Pada daerah Afrika Barat terdapat dua jenis literatur Islam di Afrika, yaitu literature ilmiah karya ulama Afrika dalam bahasa klasik dan literature Arab klasik pribumi dalam literatur Islam Afrika.[12]
3.      Afrika Selatan
Islam mulai berkembang di wilayah ini pada masa penjajahan Belanda yang tergabung dalam dua gelombang. Pertama adalah orang-orang dari Melayu, Bengal, Malabar dan Madagaskar yang dibawa oleh kolonial Belanda ke Afrika selatan sebagai tahanan dan budak. Kedua adalah para pedagang dan pekerja yang datang dari Calcuta, Madras, Bombay dan Gujarat pada abad ke 19.[13]
Pola perkembangan kebudayaan berbeda dengan kawasan sekitar sesama Afrika Hitam. Terutama dalam kehidupan politik, wilayah ini menunjukkan fenomena yang sangat dinamis, termasuk dalam pencampuran bahasa dan pola-pola kebudayaan dengan etnik diluar afrika hitam. Daerah ini tidak memiliki lagi cirri bahasa dan sastra yang menonjol disbanding dengan wilayah sekitar Afrika Hitam lainnya. Masyarakat Afrika Selatan mengalami perubahan social budaya yang dramatis selama periode 1970-an dan 1980-an yang juga berpengaruh terhadap kaum muslimin.[14]
4.      Afrika Utara
Afrika utara yang meliputi lembah Sungai Nil bagian bawah yang disebut al-Misr (Mesir Modern); wilayah Libya, Cyrenacia, Tripolitania dan Tunisia yang seluruh wilayahnya dikenal sebagai wilayah Afrika serta wilayah Aljazair dan Maroko dengan sebutan al-Maghribi.[15] Sebelum Islam datang wilayah Afrika Utara berada dalam kekuasaan bangsa Romawi, sebuah imperium yang sangat besar yang melingkupi beberapa Negara dan berjenis-jenis bangsa manusia.[16] Kedatangan Islam di Afrika Utara terjadi pada masa kekhalifahan Umar Ibn al-Khathab. Pada masa itu kekuasaan Islam (640 M), sudah berhasil memasuki Mesir di bawah komando ‘Amr ibn al-‘Ash. Pada waktu kekuasaan Islam sudah berpindah kepada Muawwiyah Ibn Sufyan khalifah pertama bani Ummayah. Ia bertekad untuk memberikan pukulan terakhir kepada kekuasaan Romawi di Afrika Utara, dan mempercayakan tugas ini kepada seorang panglima masyhur Uqbah Ibn Nafi al-Fikri (W. 683 M), yang telah menetap di Barqah sejak daerah itu ditaklukan.[17]
Pada tahun 50 H/670 M ‘Uqbah mendirikan kota militer yang termasyhur, Kairawan, disebelah selatan Tunisia. Tujuannnya adalah untuk mengendalikan orang-orang Barbar yang ganas dan sukar diatur,dan juga untuk menjaga terhadap perusakan-perusakan yang dilakukan oleh orang-orang Romawi dari laut berhasil membuat negeri itu aman selama beberapa tahun. Akan tetapi, pada tahun 683 M orang-orang Islam di Afrika utara mengalami kemunduran yang hebat, karena orang-orang Barbar dibawah kepemimpinan Kusailah bangkit memberontak dan mengalahkan ‘Uqbah. Sejak saat itu orang Islam tidak berdaya mengembalikan kekuasaannya di Afrika Utara, karena selain berhadapan dengan bangsa Barbar juga ada bangsa Romawi yang memanfaatkan kesempatan dalam pemberontakan tersebut.
Dalam kondisi seperti ini penyebaran Islam tidak bisa menyebar dengan baik keadaan ini berlanjut hingga terjadi pergantian Gubernur dari Hasan Ibn Nu’man kepada Musa Ibn Nusair tahun 708 M, pada awal pemerintahan al-Walid Ibn Abdul Malik (86-96 H)/705-715 M. Ketika pemerintahahan dipegang oleh Musa, di Afrika Utara terjadi perubahan sosial dan politik yang cukup drastis. Perlawanan orang-orang Barbar yang ganas dapat dihancurkan domanasi politik berada di tangan orang orang muslim dan da’wah Islam yang menyebar dengan kecepatan yang luar biasa. Hal-hal inilah yang menyebabkan sebagian sejarawan menganggap Musa Ibn Nusair sebagai penakluk yang sesungguhnya atas Afrika Utara.[18]
5.      Sudan
Pada bagian utara Islam menyebar mulai sekitar tahun 1000-an M diberbagai wilayah Sudan. Islam tumbuh menjadi agama populer, atau menjadi agama rakyat bawah dan bukan menjadi agama para penguasa dan bangsawan sebagaimana terjadi di Sudan bagian tengah dan barat.[19]
6.      Libya
Pemerintahan Usmani mendirikan rezim pertama di wilayah Tripolitania, Cyrenaica, dan Fezzan yang pada masa modern ini membentuk sebuah Negara yaitu Libya. Pada abad ke-7, dalam serangkaian invasi menimbulkan proses Arabisasi dan Islamisasi penduduk negeri namun tidak diiringi pembentukan rezim yang memusat.[20]
D.       Kerajaan Islam di Afrika
1.      Dinasti Fatimiyah (297-567 H/909-1171 M) di Afrika Utara tepatnya di Mesir dan Syria. Dinasti ini berdiri di Raqqodah daerah al-Qairawan dengan Al-Mahdi sebagai khalifah pertama. Dinasti fatimiyah mencapai puncak kejayaannya dibawah pemerintahan Abu Manshur Nizar al-‘Aziz yang terkenal pemberani dan bijaksana. Daerah kekuasaannya mencapai seluruh Syria dan Mesopotamia. Hasil peradaban yang pernah ditorehkan, diberbagai bidang yaitu:
a.    Ilmu pengetahuan (bahasa-sastra, kedokteran, filsafat, astronomi, dll).
b.    Filsafat: menggunakan filsafat Yunani dan mengembangkannya.
c.    Pembangunan yang pernah ditorehkan antara lain: membangun istana-istana yang megah, masjid-masjid, rumah sakit, pemondokan khalifah, perpustakaan, pemandian umum, pasar, dan lain-lain.
d.   Ekonomi dan sosial : menghasilkan produk industry dan seni Islam yang baik hingga ke India.
e.    Pemerintahan : sipil (qadi, dakwah, inspektur pasar, bendahara, dan qari’)  dan militer (urusan tentara, perang, pengawal khalifah dan pengaman).
f.     Perluasan wilayah yang dilakukan masa khalifah al ‘Aziz meliputi negeri Arab sebelah timur sampai laut altantik sebelah barat dan Asia kecil sebelah utara sampai Nabuah sebelah selatan.[21]
2.      Dinasti Idrisiah (786 M), Idris ibn Abdullah melakukan pemberontakan terhadap Abbasiah pada 786 M, namun karena kalah, ia melarikan diri ke Maroko dan mendirikan dinasti Indrisiah (788-974 H). Karena dinasti ini terletak diantara kekuasaan Islam besar yaitu Umayyah di Andalusia dan Fatimiyah di Afrika Utara. Akhirnya panglima dari Hakam II di Andalusia, yaitu Ghalib Billah melakukan aneksasi wilayah Indisiah. Setelah itu maka berakhirlah wilayah Dinasti Indrisia.
3.      Dinasti Aghlabiah (800-909 M), Dinasti ini berpusat di Saljiman, berdiri ketika Khalifah Harun al-Rasyid mengangkat Ibrahim ibn al-Alghlab sebagai penguasa Ifriqiah (Tunisia) pada 800 M. Muntuk membendung kekuatan-kekuatan luar dengan Abbasiah terutama membendung serangan dinasti Rustamiah (khawarij) dan Idrisiah. Periode ini membawa Afrika Utara dan kawasan pesisir Laut Tengah dalam banyak kemajuan. Dinasti ini lenyap pada penguasa terakhir Ziadatullahal-Aghlabi III pada 909 M  oleh dinasti Fatimiah.
4.      Dinasti Ibn Toulun, didirikan oleh Ahmad ibn Toulun yang semula ditugaskan oleh penguasa Abbasiah sebagai penguasa Mesir. Periode ini, kegiatan intelektual, arsitektur berkembang dan maju. Banyak rumah sakit, masjid, dan menara didirikan yaitu Masjid ibn Toulun di Mesir.  Putera Ibn Toulun, Syaibhan 904-905 M mengembalikan Mesir kedalam kekuasaan Abbasiah.
5.      Dinasti Ikhshid 935-969 M, Muhammad ibn Tughuz mendirikan dinasti Turki dan ia mendapatkan gelar nama Ikhshid dari Khalifah al-Razi, tidak lama kemudian ia menguasai Syam, Palestina, dan kedua kota suci Islam, Mekah dan Madinah serta masjidnya. Abdullah Misk Kapur berkuasa dengan sukses. Penguasa teakhir dari dinasti ini, Abul Fawaris Ahmad. Ia dikalahkan oleh panglima perang dari Fatimiah.[22]
6.      Dinasti Murabbitun (479-540 H/1088-1145M) merupakan salah satu dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi. Mereka menyebarkan agama Islam dengan mengajak suku-suku lain menganut agama Islam. Wilayah mereka meliputi Afrika Barat Daya dan Andalus. Dinasti ini memegang kekuasaan selama ± 90 tahun dengan 6 penguasa, yaitu Abu bakar bin Umar, Yusuf bin Tasyfin, Ali bin Yusuf, Tasyfin bin Ali, Ibrahim bin Tasyfin, dan Ishak bin Ali.[23]
7.      Dinasti  Muwahhidun (524-667 H/1130-1269 M), pelopor dan pendiri dinasti ini adalah Muhammad ibn Tumart. Muncul sebagai reaksi dari al-Murrabitun yang dianggap telah melakukan penyimpangan, dinasti ini berpusat di Marakesy dan sebagian wilayah Andalusia (Spanyol).[24]
8.      Dinasti Ayyubiyah (1174-1250 M), pada abad ke-12 Zangid Mosul dan Damaskus ditunjuk sebagai Atabek dari Saljuk dan menjadi wilayah otonomi. Kaum tersebut secara umum di mana Ayub memimpin perang suci untuk merestori Islam. Kejadian paling krusial dalam hubungan dengan sejarah Islam adalah berakhirnya sikap anti-khilafah, Ismailliyah di Kairo (1171 M) di Bagdad.[25] 

Dari pembahasan tentang “penyebaran peradaban Islam di Afrika” dapat disimpulkan bahwa Islam di Afrika sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, namun untuk penguasaan daerah dimulai pada masa Khulafaur Rasyidin. Sebelum Islam masuk, daerah afrika berada dalam cengkraman Romawi. Yang akhirnya dapat menjadi peradaban Islam serta dapat mengakar di daerah ini hingga sekarang. Kawasan Afrika, secara umum terbagi dalam dua kategori, yaitu wilayah Afrika Utara dan Afrika Hitam. Proses masuknya Islam ke Afrika melalui lima cara, antara lain: expansi, migrasi, perdagangan, dakwah, dan gerakan pembersihan moral.
Kerajaan Islam di Afrika antara lain: Dinasti Fatimiyah (297-567 H/909-1171 M), Dinasti Idrisiah (786 M), Dinasti Aghlabiah (800-909 M), Dinasti Ibn Toulun, Dinasti Ikhshid 935-969 M, Dinasti Murabbitun (479-540 H/1088-1145M), Dinasti  Muwahhidun (524-667 H/1130-1269 M), Dinasti Ayyubiyah (1174-1250 M), dan lain-lain.


[1]Agus Susanto, Islam Itu Sangat Ilmiah : Mengungkap Fakta-Fakta Ilmiah dalam Ajaran-Ajaran Islam, (Jogjakarta: Najah, 2012), hlm. 14.
[2]Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009), hlm. 255-256.
[3]Ajid Thohir, Studi Kawasan..., hlm. 257-262
[4]Qosim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, Buku Pinter Sejarah Islam, (Jakarta: Nizam, tt), hlm.1127.
[6]M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam.(Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.2007), hlm. 184.
[7]Dudung Abdurrahman, dkk, Sejarah Peradaban Islam: dari Masa Klasik  Hingga Modern. (Yogyakarta: Lesfi, 2004), hlm. 220.
[10]Ajid Tohir, Studi Kawasan…, hlm. 263-269.
[11]Yudian W.Asmin, Krisis Peradaban Islam Modern Sebuah Kultur Praindustri dalam Era Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1994), hlm. 87-89.
[12]Ajid Tohir, Studi Kawasan…, hlm. 272.
[13]Dudung Abdurrahman, dkk, Sejarah Peradaban..., hlm. 255.
[14]Ajid Tohir, Studi Kawasan..., hlm. 277-281.
[15]Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya (terj. Adang affandi), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 313.
[16]Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya-Jilid I, (Jakarta: UI-Press, 2002), hlm. 56-88.
[17]Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern (Yogyakarta: LESFI, 2004) hlm 220-221.
[18]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirosah Islamiah II (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006) hlm 88.
[19]Dudung Abdurrahman, dkk, Sejarah Peradaban..., hlm. 262.
[20]Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), hlm.250.
[21]Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 171-177.
[22]Dudung Abdurrahman, dkk, Sejarah Peradaban..., hlm. 224-226.
[23]Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 128-132.
[24]Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik..., hlm. 131-132.
[25]Rusydi Sulaiman, Pengantar Metodologi Studi Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 267.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar