Jumat, 29 Januari 2016

MASA DEPAN KEBANGKITAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF FENOMENOLOGIS



Era globalisasi telah menyeret umat Islam untuk bersaing dalam kancah percaturan dunia. Berhadapan dengan wajah barat, maka umat Islam dengan segala keadaannya yang masih tertidur harus mengakui bahwa dunia Islam masih berada jauh tertinggal di belakang dunia Barat. Hal tersebut membawa dua dampak bagi masyarakat Islam, yaitu positif dan negatif. Pada masa ini dunia Barat dipandang sebagai kiblat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaannya juga dipandang lebih relevan dan pantas untuk diterapkan suatu bangsa. Sementara itu Islam yang diturunkan dari belahan Timur dipandang sudah ketinggalan zaman dan tidak relevan lagi.
Pada dasarnya kemajuan dunia Barat karena mereka mempelajari karya-karya yang dihasilkan oleh ilmuan Islam. Namun, mengapa sekarang menjadi terbalik, Islam yang justru menjadi tertinggal. Dengan bercermin kepada fenomena sejarah yang mencatat betapa gemilangnya masa kejayaan Islam di masa silam. Maka, pada abad inilah saatnya umat Islam harus memperbarui paradigma pemikirannya, untuk mewujudkan kembali kejayaan Islam. Maka perlu adanya rekonstruksi di seluruh aspek kehidupan. Dari sinilah mari kita muncul beberapa gagasan yang dapat membangkitkan Islam kembali di masa depan. Maka, dalam makalah ini akan sedikit memaparkan tentang “masa depan kebudayaan dan kebangkitan Islam dalam perspektif fenomenologis”.
A.      Definisi Pendekatan Fenomenologis
Pendekatan Fenomenologis ini dilahirkan oleh sekelompok orang yang memiliki perhatian terhadap studi agama di Eropa pada perempat terakhir abad ke-19. Pada dasarnya ia berusaha untuk mendekati agama secara ilmiah, sebagai fenomena sejarah yang paling penting dan universal. Dalam kontek Amerika Utara, kerja Fenomenologis ini biasa dikenal dalam rubric perbandingan agama atau sejarah agama-agama.
Makna dari kata “fenomonologis” ialah suatu metode berfikir ilmiah yang berlatar belakang filsafat. Metode ini dirintis oleh Edmund (1859-1938) dengan semboyan: “Zuriick zu den sachen selbst” (kembali kepada hal-hal itu sendiri). Metode ini bertumpu kepada intuisi dan menyingkirkan segala yang subjektif, semua yang teoritis, dan segala yang diwariskan atau diajarkan, serta membatasi diri pada gejala-gejala, dan dalam fenomena itu kepada hakikat, esensi dimana disingkirkan segala yang kebetulan.
Metode ini kemudian dikembangkan oleh Edmund Husserl (1859-1935) dari Jerman, Marleau Ponty (1908-1961) dari Prancis, Max Scheler, Rudolf Otto, Jean Hering, Joachim Wach keturunan Jerman dan Marcea Eliade sarjana berkebangsaan Rumania yang pindah ke Amerika Serikat setalah perang dunia ke II. Eliade inilah pelanjut tugas-tugas Joachim Wach walaupun tidak persis sama. Pengaruhnya cukup besar, terutama hasil penelitiannya tentang Yoga Hindu dan Shamanisme. Dia adalah peneliti dan pendiri jurnal History of Religions yang mengembangkan ajaran-ajaran mazhab Chicago yang dirintis oleh Wach.[1]
Phenomenological research, in which the researcher identifies the “essence” of human experiences concerning a phenomenon, as described by participants in a study. Understanding the “lived experiences” marks phenomenology as a philosophy as well as a method, and the procedure involves studying a small number of subjects through extensive and prolonged engagement to develop patterns and relationships or meaning.[2]

Dapat difahami bahwa pendekatan fenomenologi merupakan strategi penelitian di mana peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang fenomena tertentu. Kemudian memahami pengalaman hidup manusia menjadikan filsafat fenomenologi sebagai suatu metode penelitian yang prosedurnya mengharuskan peneliti untuk mengkaji beberapa subjek dengan terlibat secara langsung dan relatif lama di dalamnya untuk mengembangkan pola-pola dan relasi-relasi yang bermakna.[3]
Pendekatan fenomenologis berusaha memperoleh gambaran yang lebih utuh dan yang lebih fundamental tentang fenomena keberagamaan manusia. Pendekatan fenomenologis yang diilhami oleh cara pendekatan filosofis yang dikembangkan oleh Edmund Husserl berupaya untuk memperoleh esensi keberagamaan manusia secara umum (universal, transedental, inklusif). Pendekatan ini lebih bersifat value-laden (terikat oleh nilai-nilai keagamaan yang dipercayai dan dimiliki oleh para pengikut agama yang ada).[4] Fenomenologis berarti mencari fenomena yang muncul dalam kesadaran manusia.[5]
Husserl melanjutkan pikiran Kant. Ia memusatkan pikirannya atas pengalaman. Darimana asalnya pengalaman itu. Pengalaman hanya dari apa yang dapat dilihat dan diamati, dari pada apa yang ditunjukkan oleh benda-benda itu kepada panca indera. Fenomena dari satu benda, perwujudannya, itulah cara benda itu memperkenalkan diri kepada manusia. Dan itulah yang dapat diketahui manusia, bukan satu pokok atau inti, tapi hanya sekedar gejala dan gejala inilah yang dapat ditinjau oleh panca indera dan begitulah pokok pengalaman manusia.[6] Aspek pendekatan fenomonologis sangat penting, pencapaian utamanya terletak pada pandangan bahwa norma semua studi agama adalah pengalaman pengikutnya sendiri. Kategori untuk memahami dan menyusun pengalaman agama adalah kategori yang dibentuk umat beragama untuk diri mereka sendiri melalui karya tradisi historinya dan pengalaman pribadinya sendiri.[7]
B.      Kaidah atau cara kerja Pendekatan Fenomenologis
Adapun cara kerja dengan pendekatan fenomenologis, antara lain:
1.    Mengklasifikasikan fenomena keagamaan pada kategori masing-masing. Hal ini dilakukan untuk memahami nilai dari masing-masing fenomena.
2.    Melakukan interpolasi dalam kehidupan pribadi peneliti, dalam arti seorang peneliti dituntut untuk ikut membaur dan berpartisipasi dalam sebuah keberagamaan yang diteliti untuk memperoleh pengalaman dan pemahaman dalam dirinya sendiri.
3.    Melakukan “epochè” atau menunda penilaian (meminjam istilah Husserl) dengan cara pandang yang netral.
4.    Mencari hubungan struktural dari informasi yang dikumpulkan untuk memperoleh pemahaman yang holistik tentang berbagai aspek terdalam suatu agama.
5.    Tahapan-tahapan tersebut menurut Van der Leeuw secara alami akan menghasilkan pemahaman yang asli berdasarkan “realitas” atau manifestasi dari sebuah wahyu.
6.    Fenomenologis tidak berdiri sendiri (operate in isolation) akan tetapi berhubungan dengan pendekatan-pendekatan yang lain untuk tetap menjaga objektivitas.[8]
Tiga tugas yang harus dilakukan oleh fenomenologis agama, yaitu: harus mencari hakikat dari Yang Maha suci, ia harus memberikan teori evolusi, dan yang terakhir ia harus mempelajari tingkah laku agamis.[9]
C.      Fenomena sejarah tonggak kebangkitan kembali umat Islam (abad 15H) dengan merefleksi masa lampau
Mengutip pernyataan Ir. Soekarno “jangan lupakan sejarah”, maka untuk membangun Islam dimasa depan, umat Islam wajib merefleksi serta merenungkan catatan yang diukir umat Islam sejak masa perintisan, kejayaan, kemunduran dan stagnansi yang saat ini masih dialami oleh umat Islam. Bagi sejarah ada masa rintisan, ada masa pertumbuhan dan perkembangan, ada masa kejayaan, ada masa kemunduran bahkan kehancuran. Terkait dengan perjalanan dan pengalaman Islam, yang mengherankan mengapa kemunduran Islam ini sangat berlangsung lama. Menurut penilaian Bazmee Anshori yang menegaskan bahwa orang-orang Islam selama berabad-abad dahulu telah menutup pintu ijtihad, sehingga mengakibatkan stagnisasi dan tidak memiliki dinamisme.
Pada masa pertengahan telah berkembang taqlid buta dikalangan umat Islam.[10] Umat Islam tidak lagi menggunakan pemikiranya untuk melakukan ijtihad sebagaimana pemikir-pemikir sebelumnya untuk menggali sumber yang asli kepada Al Qur’an dan Hadits nabi, praktek bermahdzab dan bid’ah telah subur.[11] Itulah gambaran pemikiran umat Islam masa lalu yang telah berkembang hingga sekarang. Dari gambaran tersebut kita dapat mencoba mengganti pemikiran tersebut dengan terbukanya pintu Ijtihad.
Sikap pasif dan apatis ini berlangsung beratus-ratus tahun mendera umat Islam mengakibatkan kelumpuhan kreativitas yang disertai sikap pasrah kepada Allah SWT (jabariyah). Keadaan ini makin parah saat mereka diperlakukan sebagai warga jajahan bagi bangsa-bangsa Barat. Sebagai warga jajahan, mental mereka diperbudak secara paksa, sementara mereka tidak memiliki SDM yang kuat untuk memberikan perlawanan yang seimbang.[12] Dengan merefleksi beberapa sebab yang menjadikan Islam tertinggal, maka Islam perlu menjadikan kejayaan-kejayan di masa silam sebagai tonggak kebangkitan untuk membangun Islam di masa depan dalam berbagai aspek kehidupan.
Seperti politik yang di jalankan oleh Nabi SAW yaitu politik nilai, Politik di sini tidak sekadar berkaitan dengan hasrat kuasa, tetapi juga dalam makna yang lebih luas meliputi dengan institusi budaya, sosial, agama, bahkan pengetahuan.[13] Sedangkan dibidang militer, kekuatan militer yang disusun Umayah untuk melakukan ekspansi-ekspansi perluasan wilayah hingga ke Barat. Dibidang ilmu pengetahuan dan budaya, Abbasiyah menorehkan sejarah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dan budaya.
D.       Usaha Umat Islam untuk Membangun Peradaban Masa Depan
Kemajuan suatu peradaban dalam sejarah umat manusia tidak mungkin terwujud apabila peradaban tersebut menutup diri dan tidak mau berinteraksi dengan peradaban yang lain. Islam hadir sebagai sebuah peradaban yang unggul pada masa kejayaannya, juga diyakini merupakan buah dari keterbukaan Islam untuk menerima berbagai peradaban lain yang ada di luar Islam dan kemudian menyelaraskan diri dengan ajaran Islam.[14] Kesadaran akan kelemahan dan ketertinggalan kaum muslimin dari bangsa Eropa dalam berbagai bidang kehidupan ini, telah timbul mulai abad ke- 11 H/17 M. Inilah yang membuka mata kaum muslimin akan kelemahan dan keterbelakangannya, sehingga akhirnya timbul berbagai macam usaha pembaharuan dalam segala bidang kehidupan, untuk mengejar ketinggalan dan keterbelakangan mereka, termasuk usaha di bidang pendidikan.[15]
Kalau pada awal abad ke-19 M kita menyaksikan bahwa agama hampir saja tercampur oleh kemajuan ilmu pengetahuan sehingga seolah agama harus ditinggalkan dan tidak lagi relevan untuk dianut, maka dalam mengakhiri abad ke-20 dan menyongsong abad ke-21 ini tampaknya agama mendapatkan tempat kembali untuk ditoreh oleh para ilmuwan. Agama ternyata memang memiliki ruang dalam ilmu pengetahuan. Sistem keimanan dijelaskan dan dihadirkan sebagai satu kesatuan organik dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dibutuhkan oleh agama sebagai sarana aktualisasi doktrin-doktrinnya, sedangkan agama dibutuhkan oleh ilmu pengetahuan sebagai petunjuk agar tidak menyesatkan dan menakutkan umat manusia yang membuatnya, melainkan agar menjadikan umat manusia bisa memperoleh hidup secara lebih baik, tenang, damai, dan meyejukkan.[16]
Kekacauan yang dialami dunia ini menyangkut kekacauan politik, militer, ekonomi, kultural, psikologis, intelektual dan sosial. Semua kekacauan ini masih mengendap di kerak dunia Islam dan sejauh ini belum ada tindakan yang berhasil mencairkannya.[17] Usaha-usaha dalam membangun peradaban masa depan diberbagai bidang, antara lain:
1.      Bidang pendidikan
Dengan langkah menghilangkan adanya politik pendidikan yang terhegemoni oleh  barat, dengan cara:
a.     Membangun kembali paradigma pendidikan dengan kembali belajar pada para penemu muslim. Misalnya: mengenai teori evolusi telah dirintis secara berurutan oleh penemu muslim mulai Al-Jahizh, Ibnu Miskawaih, sampai Muhammad Jalaluddin Rumi.
b.    Memberikan apresiasi Islam terhadap ilmu pengetahuan. Islam menyamakan dirinya dengan ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai syarat Ibadah. Dalam Islam ilmu disebut sebagai kunci kesuksesan dunia akhirat, akal sebagai alat pengetahuan mendapat perhatian dalam Islam untuk dikembangkan dan difasilitasi. Islam menolak taqlid buta, kurafat serta angan-angan.[18]
2.      Bidang ekonomi
Pemimpin negara muslim harus mempersiapkan strategi untuk meningkatkan perekonomiannya melalui upaya rekayasa. Mereka harus mencetak para pengusaha baik skala domestik maupun internasional. Dunia Islam perlu memikirkan pemerataan kekuatan perekonomian, melalui kerjasama antara pengusaha muslim. Disamping itu perlu ada tindakan antisipatif dalam menghadapi dan menyiasati kemungkinan-kemungkinan gelombang perekonomian di masa depan.[19]  
3.        Bidang politik
Para pemimpin bersama masyarakat di negara muslim, hendaknya bekerjasama membangun pola perpolitikan yang sehat. Hal ini tercermin dalam bentuk ekspresi mereka untuk saling memahami dan mentoleransi, mengedepankan kepentingan negara, bertindak serta berfikir objektif dan rasional, dan ekspresinya dalam bentuk lainnya. Pada bagian lain negara muslim perlu menghindari pikiran atau tindakan yang mencerminkan nasionalisme sempit, sikap arogan, perasaan superior, dan menjunjung tinggi konsep patriotisme serta konsep demokrasi yang sehat dan dewasa.
Disamping itu umat Islam sebaiknya membangun kekuatan militer yang tangguh untuk kepentingan pertahanan dan keamanan. Dengan pengertian lain motiv membangun militer bukanlah bertujuan untuk ovensif melainkan devensif dari serangan-serangan.
4.        Bidang Sosial dan Budaya
Kebudayaan sebagai sumber nilai tidak bisa terpisahkan dari agama sebagai ajaran yang diyakini dapat mengatur kehidupan manusia. Budaya merupakan bagian integral dari agama dan agama bisa menghasilkan budaya. [20] Perkembangan umat Islam sejak masa paling awal hingga saat ini diwarnai oleh pertikaian-pertikaian dimulai dari pemilihan siapa pengganti nabi telah menimbulkan benih pertikaian, hal ini masih berlangsung hingga masa modern seperti Iraq melawan Iran, Iraq menyerang Kwait, dan Arab Saudi mengundang Amerika Serikat untuk menyerang Iraq. Lantaran petikaian ini, sampai sekarang Islam belum memiliki pemimpin Internasional yang ditaati bersama.
Untuk mengatasi berbagai pertikaian tersebut, kita harus membangun budaya dialogis, bukan sekedar suasana dialogis. Budaya dialogis dimaksudkan supaya kecenderungan untuk menyelesaikan segala macam pertikaian, perbedaan pandangan, seharusnya melalui kebiasaan berdialog. Jadi, orientasi waktunya diharapkan bersifat Permanen sehingga bersifat Prefentif dan Kuratif dalam menyelesaikan masalah. Budaya dialog digunakan untuk membangun kedamaian semesta secara hakiki meliputi lintas agama, bahasa, dan negara.[21]
Untuk dapat mewujudkan harapan-harapan besar terhadap agama Islam, maka menggunakan sebuah corak keberagamaan yang inklusif, dialogis, dan intelektualistik. Dalam era globalisasi, yang berkat teknologi dan transportasi membuat umat manusia hidup dalam sebuah “desa buwana”, manusia akan semakin intim dan mendalam me-ngenal satu sama lain, tetapi sekaligus juga lebih mudah terbawa kepada penghadapan dan konfrontasi langsung. Maka dari itu sangat diperlukan sikap-sikap saling pengertian, dengan kemungkinan mencari dan menemukan titik kesamaan.[22]
Keberagamaan Islam yang dialogis dapat diwujudkan apabila umat Islam tidak telalu menekankan pada truth claim. Terdapat beberapa macam bentuk dialog, yaitu:
a.     Dialog internal antara sesama umat Islam
b.    Dialog eksternal antara umat Islam dengan umat beragama lain,
c.     Dialog antara Islam dengan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya kontemporer
d.    Dialog antara umat Islam dengan berbagai persoalan aktual yang menyangkut umat Islam sendiri maupun umat manusia pada umumnya.
Dengan keberagamaan semacam ini diharapkan umat Islam dapat menjawab tantangan zaman dan dapat memberikan sumbangannya bagi peradaban masa depan umat manusia yang cenderung pluralistik dan globalistik.[23]
E.       Fenomena di Indonesia
Pemikiran Islam di Indonesia mempunyai tradisi yang cukup beragam, yaitu ada tradisi yang diinspirasikan oleh pemikiran dari Barat dan ada tradisi pemikiran Islam yang berkembang di dalam tradisi luar Barat dalam bentuk pesantren atau tradisi yang terkait dengan sejarah intelektual di Timur Tengah. Indonesia mencoba memperbaiki beberapa aspek kehidupan sebagai sumbangsih adanya semangat kebangkitan Islam
1.        Bidang Pendidikan
Education is thus a fostering, a nurturing, a cultivating, process. All of these words mean that it implies attention to the conditions of growth”.[24] Dapat diartikan bahwa pendidikan merupakan sebuah perkembangan, pemeliharaan, penanaman, dan proses. Semua kata tersebut berarti bahwa pendidikan menerapkan perhatian terhadap kondisi dari pertumbuhan. Oleh sebab itu pendidikan merupakan sebuah akar yang digunakan untuk menopang kebangkitan.
Islamisasi pengetahuan sudah mulai digalakkan diberbagai negara Islam seperti yang dilakukan di negara negara yang terletak di Asia Tenggara. Umat Islam Indonesia terutama pada level pemikir Islam mulai berbenah dan senantiasa mengingatkan perlunya mengejar kemajuan sekaligus mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang lebih maju. Mereka terus bergerak maju membangun konsep pemikiran strategis yang dapat dijadikan pedoman bagi perubahan perilaku umat Islam. Hal ini direalisasikan melalui revivalisasi khasanah keilmuan masa lalu, kurikulum 2013 hadir di Indonesia dengan wajah baru dengan adanya hidden curriculum yang menyisipkan aspek spiritual dan sosial di segala mata pelajaran.
2.        Bidang Politik
Dalam kancah dunia perpolitikan Indonesia yang bercorak demokrasi melahirkan adanya banyak partai (multi partai) yang digunakan masyarakat sebagai penyalur aspirasi rakyat untuk mencapai kesejahteraan rakyat.  Namun hingga kini tujuan tersebut belum dapat terealisasi dengan sempurna karena proses demokrasi yang berkembang menjadi tidak murni lagi dan paham patrimony serta otoriter masih berkembang kuat didalam pelaku politik.
3.        Bidang Ekonomi
Menengok kondisi Indonesia saat ini yang dapat dikatakan menurun dibandingkan lima tahun lalu, serta kekhawatiran akan kondisi masa depan, maka perancangan sistematis pembangunan menjadi sangat penting untuk dilakukan. Semenjak GBHN dihapuskan, negara Indonesia mengalami kebingungan arah pembangunan, sebab saat ini Indonesia hanya bergantung pada RJP.
Untuk menekan neraca ekonomi di Indonesia, oleh karena itu, jalan satu-satunya yang diambil oleh Gubernur BI adalah dengan menekan pola konsumsi masyarakat yang kebanyakan merupakan konsumsi barang-barang impor. Cara pertama adalah dengan menaikkan Pajak Penghasilan atas impor sebagaimana secara eksplisit.[25]
4.        Bidang Sosial dan Budaya
Salah satu ciri sosial di Indonesia yaitu pluralisme dalam beragama. Dalam hal ini toleransi agama tidak hanya diwujudkan antar komunitas agama, tetapi juga intern komunitas agama tertentu. Toleransi agama diantara berbagai penganut agama yang berbeda membutuhkan saling pengertian dan saling menghormati.[26] Sedangkan keterkaitan antara agama dan budaya terejawantah dalam praktek keberagamaan dalam konteks ruang dan waktu. Agama sebagai ajaran universal dan budaya sebagai konteks lokal selalu berdialog melahirkan kearifan-kearifan dalam berbagai kehidupan termasuk dalam relasi jender. Tradisi kesetaraan akan penampakan bahwa pola relasi jender merupakan semangat lokal tanpa meninggalkan spirit Islam.[27] Misalnya: wanita diberikan ruang gerak bebas untuk mengembangkan potensinya ikut serta dalam membangun kemajuan Indonesia.
Oleh sebab itu, apabila negara Indonesia memiliki keinginan untuk ikut andil dan mengambil peran dalam kemajuan Islam maka perlu memperhatikan seluruh komponen sistem skala nasional yang disisipi dengan nilai-nilai Islam.
Dari pembahasan tentang “Kebudayaan dan Kebangkitan Islam Masa Depan Dalam Perspektif Fenomenologi dapat disimpulkan bahwa Pendekatan fenomenologis berusaha memperoleh gambaran yang lebih utuh dan yang lebih fundamental tentang fenomena keberagamaan manusia dan yang muncul dalam kesadaran manusia. Adapun cara kerja dengan pendekatan fenomenologis, antara lain: Mengklasifikasikan fenomena keagamaan pada kategori masing-masing, melakukan interpolasi dalam kehidupan pribadi peneliti, melakukan “epochè”, mencari hubungan struktural dari informasi yang dikumpulkan, dan lain-lain.
Kemunduran Islam bermula dari berkembangnya taqlid buta dikalangan umat Islam dan tidak lagi menggunakan pemikiranya untuk melakukan ijtihad. Usaha untuk membangkitkan kebudayaan masa depan, dalam berbagai sektor diantaranya: bidang pendidikan (dengan membangun kembali paradigma pendidikan dengan kembali belajar pada para penemu muslim dan memberikan apresiasi Islam terhadap ilmu pengetahuan), bidang ekonomi (dengan mempersiapkan strategi untuk meningkatkan perekonomiannya melalui upaya rekayasa), bidang politik (dengan bekerjasama membangun pola perpolitikan yang sehat) dan Sosial serta Budaya (dengan membangun budaya dialogis). Banyak kasus yang terjadi di Indonesia dalam beberapa sektor yang menjadi agen perubahan masa depan, yaitu: Bidang Pendidikan, Ekonomi, Sosial dan Budaya dengan cara Islamisasi di semua sektor.


[1]Bashori dan Mulyono, Ilmu Perbandingan Agama, (Indramayu: Pustaka Sayid Sabiq, 2010), hlm. 97-98.
[2]John W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Method Approaches, (New Delhi: Sage Publications, 2003), hlm. 15. 
[3]John W. Creswell, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 20-21.
[4]M. Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisitas?, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), Hlm. 11-12.
[5]Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 33.
[6]Zakiah Daradjat, dkk, Perbandingan Agama, (Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, 1984), hlm. 73.
[7]Syamsul Arifin, Studi Agama Perspektif Sosiologis dan Isu-isu Kontemporer, (Malang: UMM Press. 2009), hlm. 21.
[8]Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 13-14.
[9]A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 78.
[10]Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm.. 112.
[11]Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Pembaharuan dalam Dunia Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm 6
[12]Mujamil Qomar, Merintis Kejayaan Islam Kedua, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 50-52.
[13]Asep Salahuddin, http://regional.kompas.com/read/2013/01/23/01522330/Maulid.Politik.-Kenabian , di unduh hari Sabtu 31 Oktober 2015 pukul 16.01 WIB.
[14]Aden Widjan, dkk, Pemikiran & Peradaban Islam, (Yogyakarta: Safiria Insani Press, 2007), hlm 65.
[15]Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1986), hlm. 115-116.
[16]Sholihan, Muhammad Arkoun dan Kritik Nalar Islam, (Semarang: Walisongo Press, 2009), hlm. 113-114.
[17]Mujamil Qomar, Merintis Kejayaan..., hlm. 59.
[18]Mujamil Qomar, Merintis Kejayaan..., hlm. 18-34.
[19]Mujamil Qomar, Merintis Kejayaan..., hlm. 284-285.
[20]M. Dawam Rahardjo, dkk, Pembaharuan Pemikiran Islam Indonesia, (Jakarta: KEMI, 2011),  hlm. 227.
[21]Mujamil Qomar, Merintis Kejayaan..., hlm. 59.
[22]Sholihan, Muhammad Arkoun..., hlm. 118.
[23]Sholihan, Muhammad Arkoun..., hlm. 126-128.
[24]John Dewey, Democracy and Education, (New York: Macmillan, 2004), hlm. 10.
[25]Dewi wiwik, http://m.kompasiana.com/post/read/631625/1/sekilas-ekonomi-indonesia-2014.html. di unduh hari Sabtu, 31 Oktober 2015 pukul 16.04 WIB.
[26]Aden Wijdan, dkk, Pemikiran..., hlm. 213.
[27]M. Dawam Rahardjo, dkk, Pembaharuan Pemikiran Islam Indonesia, (Jakarta: KEMI, 2011),  hlm. 227-228.

2 komentar:

  1. IMAM MAHDI MENYERU
    BENTUKLAH PASUKAN MILITER PADA SETIAP ZONA ISLAM
    SAMBUTLAH UNDANGAN PASUKAN KOMANDO BENDERA HITAM
    Negara Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah Melayu

    Untuk para Rijalus Shaleh dimana saja kalian berada,
    bukankah waktu subuh sudah dekat? keluarlah dan hunuslah senjata kalian.

    Dengan memohon Ijin Mu Ya Allah Engkaulah Pemilik Asmaul Husna, Ya Dzulzalalil Matien kami memohon dengan namaMu yang Agung
    Pemilik Tentara langit dan Bumi perkenankanlah kami menggunakan seluruh Anasir Alam untuk kami gunakan sebagai Tentara Islam untuk Menghancurkan seluruh Kekuatan kekufuran, kemusyrikan dan kemunafiqan yang sudah merajalela di muka bumi ini hingga Dien Islam saja yang berdaulat , tegak perkasa dan hanya engkau saja Ya Allah yang berhak disembah !

    Firman Allah: at-Taubah 38, 39
    Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu jika dikatakan orang kepadamu: “Berperanglah kamu pada jalan Allah”, lalu kamu berlambat-lambat (duduk) ditanah? Adakah kamu suka dengan kehidupan didunia ini daripada akhirat? Maka tak adalah kesukaan hidup di dunia, diperbandingkan dengan akhirat, melainkan sedikit
    sekali. Jika kamu tiada mahu berperang, nescaya Allah menyiksamu dengan azab yang pedih dan Dia akan menukar kamu dengan kaum yang lain, sedang kamu tiada melarat kepada Allah sedikit pun. Allah Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

    Berjihad itu adalah satu perintah Allah yang Maha Tinggi, sedangkan mengabaikan Jihad itu adalah satu pengingkaran dan kedurhakaan yang besar terhadap Allah!

    Firman Allah: al-Anfal 39
    Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi, dan jadilah agama untuk Allah.

    Peraturan dan undang-undang ciptaan manusia itu adalah kekufuran, dan setiap kekufuran itu disifatkan Allah sebagai penindasan, kezaliman, ancaman, kejahatan dan kerusakan kepada manusia di bumi.
    Ketahuilah !, Semua Negara Didunia ini adalah Negara Boneka Dajjal

    Allah Memerintahkan Kami untuk menghancurkan dan memerangi Pemerintahan dan kedaulatan Sekular-Nasionalis-Demokratik-Kapitalis yang mengabdikan manusia kepada sesama manusia karena itu adalah FITNAH

    Firman Allah: al-Hajj 39, 40
    Telah diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, disebabkan mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk menolong mereka itu. Iaitu
    orang-orang yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mengatakan: Tuhan kami ialah Allah

    Firman Allah: an-Nisa 75
    Mengapakah kamu tidak berperang di jalan Allah untuk (membantu) orang-orang tertindas. yang terdiri daripada lelaki, perempuan-perempuan dan kanak-kanak .
    Dan penindasan itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan(al-Baqarah 217)

    Firman Allah: at-Taubah 36, 73
    Perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagai mana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahawa Allah bersama orang-orang yang taqwa. Wahai Nabi! Berperanglah terhadap orang-orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka.

    Firman Allah: at-Taubah 29,
    Perangilah orang-orang yang tidak beriman, mereka tiada mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan tiada pula beragama dengan agama yang benar, (iaitu) diantara ahli-ahli kitab, kecuali jika mereka membayar jizyah dengan tangannya sendiri sedang mereka orang yang tunduk..

    Bentuklah secara rahasia Pasukan Jihad Perang setiap Regu minimal dengan 3 Anggota maksimal 12 anggota per desa / kampung.
    Siapkan Pimpinan intelijen Pasukan Komando Panji Hitam secara matang terencana, lakukan analisis lingkungan terpadu.

    Apabila sudah terbentuk kemudian Daftarkan Regu Mujahid
    ke Markas Besar Angkatan Perang Pasukan Komando Bendera Hitam
    Negara Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah Melayu

    Wahai para Ikwan Akhir Zaman, Khilafah Islam sedang membutuhkan
    para Mujahid Tangguh untuk persiapan tempur menjelang Tegaknya Khilafah yang dijanjikan.

    Mari Bertempur dan Berjihad dalam Naungan Pemerintah Khilafah Islam, berpalinglah dari Nasionalisme (kemusyrikan)

    email : seleksidim@yandex.com

    Dipublikasikan
    Markas Besar Angkatan Perang
    Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah Melayu

    BalasHapus
  2. DEKLARASI PERANG PENEGAKKAN DINUL ISLAM
    DISELURUH DUNIA
    Bismillahir Rahmanir Rahiim
    Dengan Memohon Perlindungan dan Izin
    Kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
    Rabb Pemelihara dan Penguasa Manusia,
    Raja Manusia yang Berhak Disembah Manusia.
    Rabb Pemilik Tentara Langit dan Tentara Bumi


    Pada Hari Ini : Yaumul Jum'ah 6 Jumadil Akhir 1436H
    Markas Besar Angkatan Perang
    Khilafah Islam Ad Daulatul Islamiyah Melayu

    Mengeluarkan Pengumuman kepada
    1. Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) yang hidup di benua Afrika
    2. Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) yang hidup di benua Eropa
    3. Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) yang hidup di benua Asia
    4. Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) yang hidup di benua Asia Tenggara
    5. Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) yang hidup di benua Amerika
    6. Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) yang hidup di benua Australia
    7. Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) yang hidup di Kutup Utara
    8. Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) yang hidup di Kutup Selatan
    9. Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) diseluruh Dunia

    PENGUMUMAN DEKLARASI PERANG SEMESTA
    Terhadap Seluruh Negara yang Tidak
    Menggunakan Hukum Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah Rasulullah SAW.
    Perang Penegakkan Dinuel Islam ini Berlaku disemua Pelosok Dunia.

    MULAI HARI INI
    YAUMUL JUM'AH 6 JUMADIL AKHIR 1436H
    BERLAKULAH PERANG AGAMA
    BERLAKULAH PERANG DINUL ISLAM ATAS DINUL BATHIL
    BERLAKULAH HUKUM PERANG ISLAM DISELURUH DUNIA
    MEMBUNUH DAN TERBUNUH FISABILILLAH

    "Dan BUNUHLAH mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan USIRLAH mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”
    (Q.S: al-Baqarah: 191-193).

    BUNUH SEMUA TENTARA , POLISI, INTELIJEN , MILISI SIPIL ,HAKIM DAN
    BUNUH SEMUA PEJABAT SIPIL Pemerintah Negara Yang Memerintah dengan Hukum Buatan Manusia (Negara Kufar).

    BUNUH SEMUA MEREKA-MEREKA MENDUKUNG NEGARA-NEGARA KUFAR DAN MELAKUKAN PERMUSUHAN TERHADAP ISLAM.
    JANGAN PERNAH RAGU MEMBUNUH MEREKA sebagaimana mereka tidak pernah ragu untuk MEMBUNUH, MENGANIAYA DAN MEMENJARAKAN UMMAT ISLAM YANG HANIF.

    INTAI, BUNUH DAN HANCURKAN Mereka ketika mereka sedang ada dirumah mereka jangan diberi kesempatan lagi.
    GUNAKAN SEMUA MACAM SENJATA YANG ADA DARI BOM SAMPAI RACUN YANG MEMATIKAN.

    JANGAN PERNAH TAKUT KEPADA MEREKA, KARENA MEREKA SUDAH SANGAT KETERLALUAN MENENTANG ALLAH AZZIZUJ JABBAR , MENGHINA RASULULLAH SAW, MENGHINA DAN MEMPERBUDAK UMMAT ISLAM.
    BIARKAN MEREKA MATI SEPERTI KELEDAI KARENA MEREKA ADALAH THOGUT DAN PENYEMBAH THOGUT

    HANCURKAN LULUHKAN SEMUA PENDUKUNG PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA KUFAR
    DARI HULU HINGGA HILIR

    HANYA SATU UNTUK KATA UNTUK BERHENTI PERANG,
    MEREKA MENYERAH DAN MENJADI KAFIR DZIMNI.
    DAN BERDIRINYA KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH.
    KHALIFAH IMAM MAHDI.

    Kemudian jika mereka berhenti dari memusuhi kamu, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
    Maha Penyayang.

    Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan sehingga ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.
    Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu),
    maka tidak ada permusuhan (lagi),
    kecuali terhadap orang-orang yang zalim.
    Al-Baqarah : 192-193

    SAMPAIKAN PESAN INI KESELURUH DUNIA,
    KEPADA SEMUA ORANG YANG BELUM TAHU ATAU BELUM MENDENGAR

    MARKAS BESAR ANGKATAN PERANG
    KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH MELAYU
    PANGLIMA ANGKATAN PERANG PANJI HITAM
    Kolonel Militer Syuaib Bin Sholeh

    BalasHapus